• Rabu, 15 Apr 2026
Tips leisure dan ide aktivitas seru bagi orang tua untuk menghadapi kebijakan penundaan media sosial anak di bawah 16 tahun (PP Tunas 2025).

GUNUNGKIDUL – Pernahkah kamu melihat akhir-akhir ini meja makan atau ruang tamu seringkali mendadak sepi karena semua anggota keluarga asyik dengan gawainya masing-masing? Jika pernah, kamu tidak sendirian.

Pemandangan ‘zombie digital’ ini memang jadi tantangan besar buat para orang tua zaman sekarang. Tapi tenang, kebijakan baru pemerintah soal pembatasan usia media sosial di bawah 16 tahun sebenarnya bisa jadi momen emas buat kita ‘merebut’ kembali kehangatan rumah yang sempat hilang tertutup layar ponsel.

Melalui PP Tunas (Nomor 17 Tahun 2025) membawa angin segar sebab memuat peraturan bahwa anak di bawah usia 16 tahun kini didorong untuk menunda akses media sosial demi kesehatan mental dan keamanan digital mereka.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengingatkan bahwa ini adalah langkah agar orang tua tidak bertarung sendirian melawan algoritma.

Nah, mumpung ada momentum ini, yuk kita intip cara-cara seru mengisi waktu leisure keluarga tanpa harus bergantung pada scroll TikTok atau Instagram!

1. Piknik “Low-Budget” di Halaman Rumah

Ingat data BPS soal produksi pisang dan mangga Gunungkidul yang melimpah? Manfaatkan hasil kebun sendiri! Ajak anak-anak memanen buah, lalu buatlah sesi cooking class sederhana di dapur. Membuat pisang goreng cokelat atau jus mangga segar jauh lebih interaktif dan membangun kedekatan dibanding menonton video orang makan di layar ponsel.

2. Eksplorasi “Wisata Tetangga”

Alih-alih menempuh perjalanan jauh dengan risiko jalan rusak atau cuaca ekstrem, cobalah cari spot estetik di sekitar desa Anda. Ajak anak bersepeda sore atau jalan santai ke embung terdekat. Aktivitas fisik ini terbukti secara ilmiah mampu menurunkan tingkat stres dan kecanduan digital pada anak.

3. Malam Literasi & Dongeng Lokal

Sesuai saran Najeela Shihab, teknologi tetap bisa digunakan untuk belajar. Namun, sesekali cobalah kembali ke cara klasik: membacakan buku atau mendongengkan legenda lokal Gunungkidul sebelum tidur. Ini adalah cara terbaik melatih daya imajinasi anak yang seringkali “termanjakan” oleh visual instan di media sosial.

4. Berkarya dengan Tangan (DIY Project)

Media sosial sering membuat kita hanya menjadi penonton. Ajak anak menjadi “pembuat”. Manfaatkan bahan-bahan di sekitar rumah untuk membuat kerajinan tangan, melukis, atau bahkan menyusun dokumentasi foto keluarga dalam bentuk album fisik. Kegiatan ini memberikan rasa pencapaian (sense of accomplishment) yang nyata bagi anak.

5. Diskusi Digital yang Hangat

Kebijakan “Tunggu Anak Siap” bukan berarti memutus komunikasi. Gunakan waktu luang untuk mengobrol santai tentang apa yang mereka temukan di internet saat belajar. Jadilah teman diskusi yang asyik sehingga anak merasa nyaman bercerita tanpa takut dihakimi.

Membatasi media sosial sebelum usia 16 tahun bukan berarti menutup dunia anak. Sebaliknya, ini adalah kesempatan bagi kita sebagai orang tua untuk memperkenalkan “dunia nyata” yang jauh lebih luas dan berwarna. Karena pada akhirnya, kenangan terbaik anak bukan berasal dari berapa banyak likes yang mereka dapat, tapi berapa banyak tawa yang tercipta bersama orang tua di rumah.

30+ Comments

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *