• Rabu, 15 Apr 2026
Performa ekonomi Gunungkidul 2025 berdasarkan data BPS terbaru. Pertumbuhan ekonomi 5,47%, peningkatan IPM kategori tinggi, hingga tantangan infrastruktur jalan dan mitigasi bencana di Bumi Handayani

GUNUNGKIDUL– Kabupaten Gunungkidul resmi menutup lembaran tahun 2025 dengan catatan performa yang impresif. Berdasarkan publikasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Kabupaten Gunungkidul Dalam Angka 2026, wilayah yang dulu kerap diidentikkan dengan kekeringan ini kini semakin mempertegas posisinya sebagai motor penggerak ekonomi baru di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pertumbuhan ekonomi yang stabil, lonjakan di sektor peternakan, hingga indeks pembangunan manusia yang terus merangkak naik menjadi sorotan utama dalam potret pembangunan Bumi Handayani sepanjang setahun terakhir.

Ekonomi Tumbuh di Atas 5 Persen

Di tengah dinamika ekonomi global, Gunungkidul berhasil mencatatkan laju pertumbuhan ekonomi yang cukup “bertenaga” sebesar 5,47 persen pada tahun 2025. Angka ini membawa nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku menyentuh angka Rp28,87 triliun.

Kemandirian daerah pun perlahan menunjukkan progres positif. Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) menyentuh angka Rp303,27 miliar. Menariknya, sektor pariwisata dan layanan publik tetap menjadi “mesin uang” utama, di mana Retribusi Daerah menyumbang kontribusi terbesar senilai Rp147,09 miliar.

Kualitas Hidup Menuju Level “Tinggi”

Salah satu pencapaian paling membanggakan adalah meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada 2025, IPM Gunungkidul bertengger di angka 73,13, yang artinya secara resmi masuk dalam kategori “Tinggi”. Hal ini selaras dengan Angka Harapan Hidup (AHH) masyarakatnya yang kini mencapai 75,12 tahun—sebuah bukti bahwa kualitas kesehatan dan kesejahteraan warga kian membaik.

Kabar baik juga datang dari sektor pengentasan kemiskinan. Angka kemiskinan di Gunungkidul berhasil ditekan dari 15,18 persen di tahun 2024 menjadi 14,15 persen pada 2025. Meski masih ada sekitar 113,48 ribu jiwa penduduk miskin, tren penurunan ini menunjukkan program jaring pengaman sosial mulai membuahkan hasil. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pun tergolong sangat rendah, hanya di angka 2,15 persen, mengindikasikan tingginya serapan tenaga kerja di sektor-sektor lokal.

Pertanian Masih Perkasa, Ayam Broiler Meledak

Walau sektor jasa dan wisata terus tumbuh, Gunungkidul tidak meninggalkan akarnya. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tetap menjadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi 25,32 persen terhadap PDRB.

Namun, kejutan besar terjadi di sektor peternakan. Gunungkidul mengalami “ledakan” populasi unggas, khususnya ayam pedaging (broiler) yang mencapai angka fantastis 12.001.200 ekor. Selain ayam, komoditas hortikultura seperti pisang juga menjadi primadona dengan produksi mencapai 130.346 kuintal, disusul mangga sebanyak 92.624 kuintal.

Pariwisata: Tanjungsari Masih Jadi Primadona

Sektor pariwisata tetap menjadi wajah utama Gunungkidul di mata luar. Sepanjang 2025, total kunjungan wisatawan mencapai 3.298.392 orang. Wisatawan nusantara masih mendominasi pergerakan ini, sementara kunjungan mancanegara tercatat sebanyak 4.283 orang.

Kecamatan Tanjungsari, yang merupakan gerbang menuju pantai-pantai eksotis seperti Baron dan Krakal, tetap tak tergoyahkan sebagai destinasi favorit dengan total kunjungan mencapai 1,04 juta orang.

Jalan Rusak dan Cuaca Ekstrem

Namun, di balik rapor hijau tersebut, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul masih memiliki pekerjaan rumah (PR) besar di sektor infrastruktur. Dari total 1.086,14 km jalan kabupaten, baru sekitar 35 persen yang dikategorikan dalam kondisi Baik. Sisanya, terdapat 18 persen kondisi rusak dan 20 persen mengalami rusak berat. Hal ini menjadi krusial mengingat akses jalan adalah nadi utama distribusi ekonomi dan wisata.

Selain masalah fisik jalan, faktor alam juga menjadi tantangan serius. Sepanjang 2025, Gunungkidul dihantam 366 kejadian cuaca ekstrem dan 120 kejadian tanah longsor. Geografi wilayah yang berbukit membuat mitigasi bencana menjadi aspek yang tidak bisa ditawar lagi di masa depan.

Dengan akses energi listrik yang telah menjangkau 238.109 pelanggan rumah tangga dan partisipasi pendidikan dasar (SD) yang hampir menyentuh angka sempurna (98,04%), fondasi sosial Gunungkidul sebenarnya sudah sangat kuat.

Kini, tantangannya adalah bagaimana menjaga momentum pertumbuhan ekonomi 5,47 persen tersebut agar lebih merata, sembari mempercepat perbaikan infrastruktur jalan yang masih tertinggal. Jika konektivitas membaik, bukan tidak mungkin Gunungkidul pada tahun-tahun mendatang akan melompat lebih tinggi lagi.

30+ Comments

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *