• Kamis, 22 Jan 2026
Luweng Jomblang salah satu geosite di Gunungkidul. (Arif Aldian/geoparkgunungsewu.com)

Indonesia memperkuat arah pembangunan geopark melalui Indonesia’s Geopark Leader Forum 2025 yang digelar Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Jakarta, Rabu (3/12/2025). Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menjadi salah satu kepala daerah yang menyatakan komitmen untuk menjaga dan mengelola Geopark Gunung Sewu secara berkelanjutan bersama sejumlah kabupaten lainnya.

Forum ini bertujuan memperkuat kapasitas pemerintah daerah, memastikan geopark masuk indikator pembangunan nasional, dan mendorong model pengelolaan yang mengutamakan mitigasi bencana, konservasi, edukasi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Didampingi Kepala Bappeda Gunungkidul dan Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul, kami menandatangani komitmen untuk menjaga dan merawat Geopark secara berkelanjutan,” ujar Bupati Endah dikutip dari wisata.gunungkidulkab.go.id.

Pada 2025, Indonesia menempati posisi tiga besar dunia sebagai negara dengan jumlah geopark UNESCO terbanyak. Setelah Geopark Kebumen dan Geopark Meratus resmi ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp), total geopark Indonesia yang diakui mencapai 12 kawasan. Pemerintah kemudian memasukkan pengembangan geopark ke dalam agenda besar RPJMN 2025–2029, dengan target ambisius untuk meningkatkan jumlah UGGp menjadi 17 kawasan pada 2029.

Geopark kini bergerak dari sekadar destinasi wisata menjadi instrumen pembangunan wilayah. Pemerintah pusat mulai memasukkan geopark sebagai indikator dalam RPJMN karena memiliki nilai strategis di antaranya menekan risiko bencana, meningkatkan kualitas pariwisata, dan menciptakan rantai ekonomi baru melalui geoproduk.

Gunungkidul termasuk daerah yang paling diuntungkan karena memiliki geosite paling lengkap dalam bentang karst Gunung Sewu. Dengan komitmen resmi yang ditandatangani Bupati Endah, peluang integrasi kebijakan lintas provinsi (DIY–Jateng–Jatim) semakin terbuka. Yang terpenting, pengelolaan tersebut harus berlandaskan pada tiga pilar utama yakni edukasi, konservasi, dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Dalam jangka pendek, terutama sepanjang 2025–2026, penguatan komitmen antar daerah diprediksi akan mempercepat koordinasi pengelolaan Geopark Gunung Sewu. Upaya peningkatan kapasitas SDM pariwisata berbasis konservasi juga mulai dijalankan, bersamaan dengan penyusunan roadmap integrasi geosite lintas kabupaten sebagai fondasi pembangunan yang lebih terarah.

Sementara itu, dampak jangka panjangnya diproyeksikan mulai terlihat pada 2027–2029. Kualitas pariwisata di kawasan geopark akan terdorong menuju model quality tourism yang lebih berkelanjutan. Ekosistem ekonomi lokal pun diperkirakan semakin kuat berkat pengembangan geoproduk, UMKM, serta ekowisata. Pada fase ini, pemerintah juga menargetkan terbentuknya Center of Excellence sebagai pusat riset dan inovasi geopark, sekaligus memperkuat posisi geopark sebagai salah satu indikator resmi pembangunan wilayah dalam RPJMN.

Daftar Geosite di Geopark Gunung Sewu Wilayah Gunungkidul

  • Gunung Api Purba Nglanggeran
  • Embung Nglanggeran
  • Goa Pindul
  • Kali Suci
  • Luweng Jomblang
  • Pantai Siung–Wediombo
  • Lembah Kering Purba Sadeng
  • Air Terjun Bleberan
  • Pantai Baron–Kukup–Krakal
  • Luweng Cokro
  • Goa Ngingrong
  • Hutan Wanagama
  • Hutan Turunan

Mengapa Geopark Gunung Sewu Penting?

Geopark Gunung Sewu merupakan kawasan karst terbesar di Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai bagian dari warisan geologi dunia. Keunikan bentang alam, keragaman ekosistem, dan kekayaan budaya yang dimilikinya menjadikan kawasan ini bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ruang edukasi lingkungan dan laboratorium alam yang penting untuk mitigasi bencana.

Bagi daerah seperti Gunungkidul, keberadaan geopark membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pariwisata dan memperkuat ekonomi lokal melalui pengembangan geoproduk, ekowisata, serta berbagai inovasi UMKM. Selain mendongkrak pendapatan masyarakat, pengelolaan geopark juga memperkuat riset dan pendidikan tentang geologi dan konservasi.

Nilai strategis inilah yang membuat pemerintah memasukkan pengembangan geopark ke dalam RPJMN 2025–2029. Geopark dinilai memiliki kontribusi langsung pada mitigasi bencana, ekonomi kreatif, hingga pembangunan wilayah yang berkelanjutan. Dengan demikian, penguatan geopark bukan hanya investasi wisata, tetapi juga pondasi pembangunan jangka panjang Indonesia.

30+ Comments

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *