
adan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daerah Istimewa Yogyakarta menegaskan bahwa potensi cuaca ekstrem yang masih terjadi di wilayah DIY pada akhir Januari merupakan kondisi yang wajar secara klimatologis. Hal ini seiring wilayah DIY yang saat ini berada pada fase puncak musim hujan 2025/2026.
Kepala Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menjelaskan bahwa puncak musim hujan di DIY umumnya berlangsung pada Januari hingga Februari, periode yang identik dengan meningkatnya intensitas hujan dan risiko bencana hidrometeorologi.
“Berdasarkan analisis klimatologis, wilayah DIY saat ini masih berada pada periode puncak musim hujan 2025/2026. Pada fase ini, potensi terjadinya cuaca ekstrem serta bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor memang cenderung meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Warjono, menyebutkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih cukup tinggi akibat kondisi atmosfer regional dan lokal yang mendukung pembentukan awan hujan.
Meski fenomena global seperti ENSO dan IOD berada pada kondisi netral, keduanya bukan menjadi faktor utama peningkatan hujan. Namun, suhu muka laut yang hangat, kelembapan udara yang tinggi, serta adanya pola konvergensi di sepanjang Pulau Jawa menjadi pemicu utama cuaca ekstrem di DIY.
BMKG mencatat suhu muka laut di perairan selatan Jawa dan Laut Jawa berada di kisaran 28–29 derajat Celsius, yang berkontribusi besar terhadap suplai uap air. Kondisi ini diperkuat oleh kelembapan udara lapisan bawah hingga menengah atmosfer yang tergolong basah.
“Pada Senin, 13 Januari 2026, hujan diprediksi dapat mencapai kategori lebat dengan curah hujan 50 hingga 100 milimeter per hari, terutama di Sleman bagian utara, Kulon Progo bagian selatan, dan Bantul bagian selatan,” jelas Warjono.
Sementara itu, pada 14–15 Januari, intensitas hujan diperkirakan menurun ke kategori sedang, namun potensi dampak masih perlu diwaspadai.
Koordinator BMKG DIY, Ardhianto Septiadhi, mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah rawan banjir dan longsor.
“Masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada, serta rutin memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG. Upaya mitigasi sejak dini di lingkungan masing-masing sangat penting untuk mengurangi risiko dampak cuaca ekstrem,” tegasnya.
BMKG DIY memastikan akan terus melakukan pemantauan dan pembaruan informasi sesuai dengan perkembangan kondisi atmosfer terbaru.
30+ Comments
Post a comment