• Rabu, 4 Mar 2026
Festival Kethoprak Gunungkidul 2025 pada 13-18 Oktober 2025 di Auditorium lt. 3 Taman Budaya Gunungkidul

Jika selama ini festival ketoprak terdengar seperti agenda kebudayaan yang baru ramai belakangan, arsip koran ini bisa membuat kita melihatnya dari sudut yang berbeda. Gunungkidul ternyata sudah menggelar festival ketoprak secara terstruktur sejak awal 1980-an, lengkap dengan jadwal, dukungan dana, hingga sistem penilaian.

Catatan itu muncul dalam koran Berita Yudha edisi 3 Maret 1983. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa Festival Ketoprak antar kecamatan se-Dati II Kabupaten Gunungkidul telah dimulai sejak 15 Februari 1983 dan berlangsung hingga 27 Februari 1983. Festival ini digelar secara bergantian di tiap kecamatan, menjadikannya semacam “pentas keliling” yang bukan hanya meriah, tetapi juga melibatkan warga lintas wilayah.

Berita tentang Festival Ketoprak antar kecamatan se Dati II Kabupaten Gunungkidul 1983.

Yang membuat arsip ini menarik, festival ketoprak kala itu bukan agenda seremonial semata. Seluruh kecamatan ikut mendaftar—tidak ada yang absen—seolah menunjukkan bahwa ketoprak benar-benar menjadi ruang bersama yang hidup di masyarakat. Dari sini, dapat dilihat bahwa sebelum istilah “event” populer seperti sekarang, Gunungkidul sudah memiliki tradisi festival yang rapi, kompetitif, sekaligus menjadi ajang kebanggaan daerah.

1) Dulu 13 kecamatan, sekarang 18 kapanewon

Pada 1983, festival ini diikuti 13 kecamatan se-Dati II Gunungkidul. Menariknya, semua ikut—tak ada satu pun yang absen. Kepala IKEB Gunungkidul saat itu, Anjar Sudiyono, menyebut festival berjalan bergantian dari satu kecamatan ke kecamatan lain.

Sementara itu di masa kini, skala festival justru makin melebar. Festival Kethoprak Gunungkidul 2025 yang digelar Dinas Kebudayaan/Kundha Kabudayan Gunungkidul melibatkan 18 kapanewon. Artinya, partisipasi bukan mengecil, tapi justru bertambah.

2) Dulu keliling kecamatan, sekarang terpusat di panggung budaya

Festival 1983 berlangsung sejak 15 Februari hingga 27 Februari 1983. Polanya keliling tiap kecamatan bergantian jadi tuan rumah. Rasanya seperti ketoprak yang benar-benar milik warga atau kesenian rakyat. Hal itu karena berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Festival 2025 punya pola berbeda. Pentasnya dipusatkan di Auditorium Taman Budaya Gunungkidul, pada 13–18 Oktober 2025, mulai pukul 19.30 WIB sampai selesai. Suasananya lebih seperti agenda malam yang panggung banget. Pentas dimulai selepas magrib. Biasanya orang akan pergi makan dulu, lalu nonton seni tradisi.

3) Dulu dapat dana, sekarang jadi agenda kebudayaan tahunan

Pada 1983, festival bukan cuma soal pentas. Ada dukungan dana yang cukup jelas: tiap kecamatan mendapat Rp60.000, sedangkan yang terbaik tingkat kabupaten berhak maju ke Festival Ketoprak tingkat DIY pada 25–27 Maret 1983, plus bantuan Rp100.000.

Kini, ketoprak hadir sebagai agenda kebudayaan tahunan yang lebih terstruktur. Dalam promosi Festival Kethoprak 2025, panitia bahkan mengajak penonton “larut dalam kisah-kisah legendaris” karya Maestro S.H. Mintardja, yang dibawakan oleh seniman-seniman terbaik dari tiap kapanewon.

4) Penilaian tetap ketat dan serius

Kriteria penilaian festival 1983 cukup ketat mulai dari penyutradaraan, kemampuan pemain, iringan, hingga cara menyampaikan pesan pembangunan—ciri khas pertunjukan era itu yang sering memadukan hiburan dengan pesan sosial. Tim penilainya pun lintas lembaga di antaranya S. Hadi Sumarto (BKKNI), Sadipan, Martosukardiyo (IKES), serta Sugeng Handono (Deppen). Ketoprak pada masa itu terasa seperti lomba resmi, bukan sekadar hiburan.

5) Regenerasi terlihat di panggung

Arsip 1983 juga mencatat hal yang hangat: peserta festival tahun itu lebih muda dibanding tahun sebelumnya, dan penampilannya “sangat memuaskan.” Penyelenggara bahkan optimistis Gunungkidul bisa mempertahankan piala bergilir, yang sebelumnya dimenangkan pada festival 1982.

Kalau dulu regenerasi terlihat dari usia pemain di panggung, sekarang regenerasi juga terasa dari cara ketoprak menjangkau penonton. Geliatnya hidup di ruang daring lewat kanal YouTube Kebudayaan Gunungkidul yang mengunggah dokumentasi festival, termasuk Festival Kethoprak Gunungkidul 2024 serta siaran panjang Hari 1 dan Hari 2 Festival 2025.

6) Penonton dari warga sekitar, sekarang bisa ditonton dari mana saja

Video festival di YouTube bukan sekadar potongan pendek. Durasi siarannya nyaris tiga jam, format full show. Ini jadi bukti ketoprak masih punya penonton, bahkan bisa menjangkau warga Gunungkidul yang merantau, penggemar seni tradisi dari kota lain, sampai penonton muda yang baru mulai penasaran.

Empat dekade berlalu, ketoprak Gunungkidul ternyata bukan tradisi yang “dipajang” sebagai nostalgia. Ia justru berkembang mulai dari festival keliling antar kecamatan di 1983, menjadi festival terpusat yang lebih modern di 2025. Kini, ketoprak Gunungkidul dengan sejarah panjangnya punya dua panggung sekaligus yakni panggung budaya konvensional dan panggung digital.

Catatan: sejumlah akronim dan/atau singkatan ditulis sesuai sumber aslinya

30+ Comments

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *