
gunungkidul.net — Data rata-rata konsumsi per kapita seminggu menurut kelompok daging menunjukkan ayam ras menjadi jenis daging yang paling sering dikonsumsi warga Gunungkidul, dibandingkan daging merah maupun jenis daging lainnya.
Berdasarkan data tersebut, konsumsi ayam ras tercatat 0,132 satuan komoditas per kapita per minggu. Angka ini menjadi yang tertinggi di antara seluruh kelompok daging yang dicatat, jauh melampaui konsumsi daging sapi yang hanya 0,002, serta ayam kampung sebesar 0,015.
Sementara itu, beberapa jenis daging nyaris tidak dikonsumsi secara rutin. Konsumsi daging kambing, domba atau biri-biri tercatat 0, begitu pula kelompok daging secara umum. Adapun daging babi tidak tercatat dalam data konsumsi.
Untuk kelompok daging lainnya, konsumsi berada pada angka yang relatif rendah. Daging segar lainnya dan tetelan atau sandung lamur masing-masing berada di angka 0,001, sedangkan daging diawetkan lainnya tercatat 0,01. Kelompok daging lain-lain berada pada angka 0,005.
Tingginya konsumsi ayam ras mencerminkan pola konsumsi protein hewani masyarakat Gunungkidul yang cenderung memilih bahan pangan yang mudah diperoleh dan relatif terjangkau. Ayam ras juga dikenal sebagai bahan pangan yang fleksibel diolah dalam berbagai menu harian.
Meski menjadi yang tertinggi, angka konsumsi ayam ras tersebut menunjukkan bahwa konsumsi daging belum menjadi menu harian bagi seluruh masyarakat, melainkan dikonsumsi oleh sebagian warga dan kemudian dirata-ratakan ke seluruh penduduk.
Data ini memberikan gambaran bahwa ayam ras masih menjadi tulang punggung konsumsi daging di Gunungkidul, sementara konsumsi daging merah relatif terbatas.

Angka rata-rata Konsumsi Daging per kapita/minggu di Gunungkidul (2024)
Pengembangan Protein Hewani Lokal Masih Terbuka
Rendahnya angka konsumsi sebagian besar kelompok daging menunjukkan bahwa peluang pengembangan protein hewani di Gunungkidul masih terbuka lebar, baik dari sisi produksi, distribusi, maupun diversifikasi sumber pangan.
Selain ayam ras yang mencatat konsumsi tertinggi, hampir seluruh jenis daging lain berada pada angka sangat rendah. Konsumsi daging sapi hanya 0,002, ayam kampung 0,015, sementara daging kambing, domba, dan biri-biri tercatat nol konsumsi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa akses, harga, dan kebiasaan konsumsi masih menjadi faktor penentu pilihan pangan masyarakat.
Situasi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha peternakan lokal untuk mengembangkan produk daging dengan harga lebih terjangkau, skala kecil, dan sesuai kebutuhan harian masyarakat. Penguatan rantai pasok lokal, termasuk pemotongan, distribusi, dan pemasaran berbasis wilayah, dinilai dapat mendorong peningkatan konsumsi protein hewani.
Di sisi lain, rendahnya konsumsi daging merah juga memberi ruang bagi edukasi gizi dan diversifikasi pangan, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan protein keluarga. Upaya ini dapat dilakukan melalui program pemerintah daerah, pelaku UMKM pangan, hingga pasar tradisional sebagai titik distribusi utama.
Dengan demikian, data konsumsi ini tidak hanya mencerminkan pola makan masyarakat, tetapi juga menjadi indikator peluang ekonomi dan kebijakan pangan daerah yang masih dapat dioptimalkan.
30+ Comments
Post a comment