
Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Kabupaten Gunungkidul terus menunjukkan angka yang signifikan. Berdasarkan publikasi Kabupaten Gunungkidul Dalam Angka 2025, estimasi penduduk usia 60 tahun ke atas pada 2024 mencapai sekitar 159,24 ribu jiwa — atau hampir seperlima dari total populasi.
Rinciannya, kelompok usia 60–64 tahun tercatat 43,90 ribu jiwa, usia 65–69 tahun 38,81 ribu jiwa, usia 70–74 tahun 31,28 ribu jiwa, dan usia 75 tahun ke atas sebanyak 45,25 ribu jiwa. Menariknya, jumlah perempuan lansia lebih banyak dibanding laki-laki di seluruh kelompok umur tersebut, terutama pada kategori 75 tahun ke atas.
Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya Angka Harapan Hidup (AHH) di Gunungkidul yang pada 2024 mencapai 74,91 tahun. Artinya, warga hidup lebih lama dibanding generasi sebelumnya.Semakin panjang usia harapan hidup, semakin banyak orang yang masuk kategori 60 tahun ke atas — dan tetap hidup cukup lama di fase lansia.
Meski masih sedikit di bawah rata-rata Daerah Istimewa Yogyakarta, tren ini menunjukkan keberhasilan pembangunan kesehatan dan meningkatnya kualitas hidup masyarakat.
Namun, bertambahnya usia harapan hidup membawa konsekuensi: daerah perlu bersiap menghadapi struktur penduduk menua (aging population).
Lansia Bukan Beban, Tapi Penjaga Nilai
Kesadaran akan hal ini mulai ditegaskan dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Salah satunya melalui Pesantren Ramadhan Lansia Husnul Khotimah yang digelar di Dusun Jetis Kulon, Pacarejo, Semanu.
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Gunungkidul menegaskan bahwa lansia bukan sekadar objek pelayanan sosial. Mereka adalah penjaga nilai, sumber kebijaksanaan, dan saksi perjalanan panjang pembangunan daerah.
“Lansia telah memberikan tenaga, pikiran, dan pengabdian sepanjang hidupnya. Tanggung jawab kita hari ini adalah memastikan mereka menjalani masa tua dengan sehat, bermartabat, dan bahagia,” ujarnya.
Pemerintah daerah pun menekankan empat komitmen utama:
Optimalisasi layanan kesehatan lansia melalui Posyandu dan skrining berkala.
Mendorong kemandirian ekonomi lansia produktif berbasis komunitas.
Perlindungan sosial yang tepat sasaran dan berkeadilan.
Pembangunan lingkungan serta pelayanan publik yang ramah lansia.
Langkah ini penting karena populasi lansia bukan lagi kelompok kecil. Dengan lebih dari 160 ribu jiwa, kebijakan yang responsif terhadap lansia akan menentukan wajah pembangunan Gunungkidul ke depan.
Desa Ramah Lansia: Investasi Sosial Jangka Panjang
Kolaborasi juga menjadi kunci. Lembaga sosial seperti Rumah Zakat mendorong pengembangan Desa Ramah Lansia, penguatan layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Konsep desa ramah lansia bukan hanya soal fasilitas fisik, tetapi juga soal ruang sosial yang inklusif — tempat orang tua tetap merasa dihargai, dilibatkan, dan berdaya.
Dalam konteks Gunungkidul, isu lansia tidak bisa dipisahkan dari persoalan kemiskinan, akses layanan kesehatan, hingga ketahanan keluarga. Dengan struktur penduduk yang terus menua, kebijakan sosial ke depan perlu lebih adaptif dan berbasis data.
Sebab pada akhirnya, kualitas suatu daerah bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan mereka yang telah lebih dahulu menapaki perjalanan hidup.
Gunungkidul sedang memasuki fase demografis baru. Tantangannya jelas: memastikan usia panjang sejalan dengan kualitas hidup yang bermartabat.
30+ Comments
Post a comment