
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi cuaca ekstrem selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Peringatan ini disampaikan menyusul meningkatnya curah hujan lebat di sejumlah wilayah Indonesia akibat aktifnya Monsun Asia, yang diperkirakan berlangsung hingga awal Januari 2026.
Sebagai bagian dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Gunungkidul turut masuk dalam zona yang perlu meningkatkan kewaspadaan. BMKG mencatat potensi hujan lebat hingga sangat lebat di DIY pada 24–26 Desember 2025, sebuah periode krusial di tengah tingginya mobilitas wisata dan aktivitas luar ruang di kawasan pantai dan perbukitan Gunungkidul. Peringatan ini penting bagi wisatawan yang berencana berlibur ke Gunungkidul, terutama untuk aktivitas wisata alam dan perjalanan darat di tengah meningkatnya mobilitas akhir tahun.
Potensi Cuaca Ekstrem DIY 24–26 Desember 2025
BMKG mencatat potensi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat di wilayah DIY dalam periode tiga hari berikut:
- 24 Desember 2025 Hujan Lebat – Sangat Lebat
25 Desember 2025 Hujan Sedang – Lebat
26 Desember 2025 Hujan Lebat – Sangat Lebat
Data ini menjadi acuan penting bagi wisatawan yang merencanakan perjalanan ke kawasan pantai, perbukitan, maupun jalur wisata Gunungkidul.
Wisata Alam Tetap Menarik, Tapi Perlu Strategi
Gunungkidul dikenal dengan wisata pantai, karst, dan perbukitan yang terbuka. Di musim hujan, lanskap alam justru tampil lebih hijau dan segar. Namun, intensitas hujan lebat berpotensi meningkatkan risiko banjir lokal, longsor di jalur perbukitan, serta gelombang tinggi di wilayah pesisir selatan.
Artinya, wisata Nataru di Gunungkidul tetap memungkinkan, tetapi membutuhkan perencanaan yang lebih cermat: memilih jam kunjungan yang aman, menghindari jalur rawan, serta mempertimbangkan alternatif wisata non-pantai saat hujan turun.
Cuaca ekstrem dapat memengaruhi kenyamanan perjalanan, terutama di jalur darat dan kawasan wisata terbuka. Wisatawan perlu menyesuaikan agenda dan memprioritaskan keselamatan dibanding mengejar destinasi populer.
Pola cuaca ekstrem yang berulang mendorong pengelola wisata dan pemerintah daerah untuk memperkuat sistem mitigasi, mulai dari informasi cuaca, pengamanan jalur wisata, hingga pengembangan wisata alternatif yang lebih adaptif terhadap musim hujan.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa peningkatan curah hujan diperkirakan meluas di banyak wilayah Indonesia.
“Namun, secara klimatologis, wilayah yang perlu diwaspadai meliputi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua Selatan. Peningkatan curah hujan ini diperkirakan terjadi mulai akhir Desember hingga awal Januari 2026,” kata Andri dalam Konferensi Pers di Graha BNPB, Selasa (23/12/2025) dikutip dari bmkg.go.id.
BMKG merekomendasikan masyarakat tetap tenang namun waspada, terutama terhadap hujan lebat yang disertai angin kencang dan berpotensi memicu banjir serta longsor. Wisatawan juga disarankan memantau informasi cuaca secara berkala melalui aplikasi InfoBMKG, yang menyajikan pembaruan cuaca real-time.
Bagi wisatawan yang akan menikmati libur Nataru di Gunungkidul, cuaca bukan alasan untuk batal berlibur, melainkan sinyal untuk lebih bijak dalam merencanakan perjalanan. Dengan persiapan yang tepat, liburan tetap bisa aman, nyaman, dan berkesan.
30+ Comments
Post a comment