
Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut penyakit ini sebagai salah satu prioritas global karena tingkat kematiannya yang tinggi dan belum adanya vaksin maupun obat khusus. Virus Nipah merupakan virus zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Meski awalnya ditemukan pada hewan, virus ini juga bisa menular antarmanusia melalui kontak erat.
Sementara itu, Badan Karantina Indonesia menuliskan virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia dan memiliki tingkat fatalitas yang tinggi. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan pembawa virus, terutama kelelawar buah, serta melalui produk hewan yang terkontaminasi.
Menurut WHO , kelelawar pemakan buah dari keluarga Pteropodidae merupakan inang alami virus Nipah. Virus ini tidak membuat kelelawar sakit, namun dapat berpindah ke manusia melalui beberapa cara, seperti:
- Kontak langsung dengan hewan terinfeksi (kelelawar, babi, atau kuda)
- Konsumsi buah atau produk buah yang terkontaminasi air liur kelelawar, seperti nira kurma mentah
- Penularan antarmanusia, terutama di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan
Sejumlah wabah Nipah tercatat pernah terjadi di Malaysia, Singapura, Bangladesh, India, hingga Filipina. WHO mencatat tingkat kematian akibat virus Nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergolong sangat tinggi dibandingkan banyak penyakit menular lain.
Gejala yang Perlu Dikenali
Masa inkubasi virus Nipah umumnya 3–14 hari, namun dalam kasus tertentu bisa mencapai 45 hari. Sebagian orang bisa tidak menunjukkan gejala, tetapi kebanyakan mengalami:
- Demam
- Sakit kepala dan kebingungan
- Batuk dan sesak napas
- Mual, muntah, dan diare
- Kelelahan ekstrem
Pada kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi radang otak (ensefalitis) yang berujung pada pembengkakan otak dan kematian. WHO juga mencatat sekitar 1 dari 5 penyintas mengalami gangguan saraf jangka panjang.
Hingga saat ini, belum tersedia obat maupun vaksin khusus untuk virus Nipah. Perawatan yang dilakukan bersifat suportif, seperti pemberian oksigen, ventilasi, pemantauan ketat, serta penanganan komplikasi organ. Karena itu, WHO menekankan pentingnya langkah pencegahan, antara lain menghindari konsumsi buah yang sudah tergigit atau terkontaminasi hewan, mencuci dan mengupas buah sebelum dimakan, merebus nira atau produk buah mentah sebelum dikonsumsi, dan menghindari kontak langsung dengan hewan sakit.
Langkah sederhana untuk mencegah yakni tetap menjaga kebersihan tangan dan etika batuk. Di fasilitas kesehatan, penerapan protokol pencegahan infeksi yang ketat menjadi kunci untuk mencegah penularan antarmanusia.
Meski virus Nipah tergolong mematikan, WHO menegaskan bahwa kewaspadaan dan pengetahuan adalah langkah terbaik untuk melindungi diri. Edukasi masyarakat tentang penyakit zoonosis menjadi penting, terutama di wilayah dengan interaksi dekat antara manusia, hewan, dan alam.
Dengan mengenali risiko dan menerapkan pola hidup bersih serta aman, masyarakat dapat berperan aktif mencegah penyebaran penyakit, sekaligus tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan tenang dan bijak.

30+ Comments
Post a comment