• Rabu, 4 Mar 2026
Amblesan tanah di Gunungkidul kembali terjadi. UGM menyebut fenomena ini umum di kawasan karst, terutama saat musim hujan.

Guru Besar Geologi Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Wahyu Wilopo menyatakan amblesan tanah yang terjadi di Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul merupakan fenomena yang lazim terjadi di kawasan karst, terutama pada musim hujan.

“Amblesan yang terjadi di Gunungkidul itu sebenarnya masih dalam kategori sinkhole kecil dan bukan sesuatu yang mengejutkan, karena hampir setiap tahun, khususnya pada musim hujan, kejadian seperti ini sering terjadi di kawasan karst,” ujar Wahyu dikutip dari ANTARA.

Ia menjelaskan wilayah Gunungkidul didominasi batuan gamping yang mudah mengalami pelarutan oleh air. Proses tersebut membentuk rongga-rongga bawah tanah yang berpotensi memicu amblesan, terutama di lokasi dengan suplai air permukaan yang tinggi.

“Gunungkidul itu kan didominasi batu gamping yang mudah mengalami pelarutan. Amblesan sering ditemukan di daerah yang air permukaannya relatif banyak, misalnya di persawahan atau di sekitar rumah-rumah,” kata dia.

Selain faktor alami, Wahyu menyebut aktivitas manusia juga dapat mempercepat terjadinya amblesan, salah satunya melalui keberadaan septic tank di sekitar permukiman. Air limbah yang meresap ke tanah dinilai dapat mempercepat proses pelarutan batu gamping.

Menurut Wahyu, amblesan tanah di kawasan karst tidak selalu berdiri sendiri dan berpotensi merembet ke titik lain karena rongga bawah tanah bisa saling terhubung pada lebih dari satu lapisan.

“Ada kemungkinan rongganya itu di bawah tidak hanya satu layer. Mungkin di bawahnya ada lagi, kita tidak tahu,” ujarnya.

Amblesan tanah di Girikarto diketahui terjadi di dalam rumah warga. Untuk memastikan kondisi bawah permukaan, Pemerintah Daerah DIY merencanakan uji geolistrik guna memetakan kedalaman dan dimensi rongga tanah.

Menanggapi hal tersebut, Wahyu menilai metode uji geolistrik cukup efektif sebagai langkah awal kajian teknis.

“Biasanya dari hasil uji geolistrik itu kita bisa mengestimasi lubangnya ada pada kedalaman berapa dan dimensinya seperti apa. Itu nanti akan terlihat dari anomali nilai resistivitasnya,” kata dia.

Hasil kajian tersebut, lanjut Wahyu, akan menjadi dasar untuk menentukan apakah lokasi masih memungkinkan dilakukan rekayasa teknis atau justru perlu pengosongan sementara demi keselamatan warga. Ia pun menyarankan agar warga menghindari lokasi amblesan hingga hasil kajian detail tersedia.

“Saran saya, sebisa mungkin mengalih dari situ karena jauh lebih aman, kecuali sudah dilakukan studi detail untuk mengetahui dimensinya seperti apa,” ujarnya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan uji geolistrik masih menunggu kesiapan peralatan serta kondisi cuaca yang mendukung. Kepala Pelaksana BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata mengatakan pengukuran tidak akan optimal apabila dilakukan saat hujan.

“Kalau hujan hasilnya tidak maksimal,” ujar Ruruh dikutip dari ANTARA.

Ia menambahkan uji geolistrik bertujuan memastikan kedalaman dan lebar rongga di bawah permukaan tanah sebagai dasar penentuan langkah antisipasi lanjutan. Terkait potensi amblesan meluas, Ruruh menyebut hal tersebut belum dapat dipastikan sebelum kajian dilakukan.

“Belum bisa pastikan kalau belum diuji geolistrik. Sementara masih terbatas rumah tersebut,” katanya.

BPBD DIY juga menyatakan rumah warga yang terdampak amblesan saat ini untuk sementara tidak dihuni demi alasan keselamatan.

30+ Comments

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *